Halaman

Kamis, 06 Juni 2013

Catatan Sejarah


Ahli sejarah mendapatkan informasi mengenai masa lampau dari berbagai sumber, seperti catatan yang ditulis atau dicetak, mata uang atau benda bersejarah lainnya, bangunan dan monumen, serta dari wawancara (yang sering disebut sebagai "sejarah penceritaan", atau oral history dalam bahasa Inggris). Untuk sejarah modern, sumber-sumber utama informasi sejarah adalah: foto, gambar bergerak (misalnya: film layar lebar, audio, dan rekaman video). Tidak semua sumber-sumber ini dapat digunakan untuk penelitian sejarah, karena tergantung pada periode yang hendak diteliti atau dipelajari. Penelitian sejarah juga bergantung pada historiografi, atau cara pandang sejarah, yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Ada banyak alasan mengapa orang menyimpan dan menjaga catatan sejarah, termasuk: alasan administratif (misalnya: keperluan sensus, catatan pajak, dan catatan perdagangan), alasan politis (guna memberi pujian atau kritik pada pemimpin negara, politikus, atau orang-orang penting), alasan keagamaan, kesenian, pencapaian olah raga (misalnya: rekor Olimpiade), catatan keturunan (genealogi), catatan pribadi (misalnya surat-menyurat), dan hiburan.
Namun dalam penulisan sejarah, sumber-sumber tersebut perlu dipilah-pilah. Metode ini disebut dengan kritik sumber. Kritik sumber dibagi menjadi dua macam, yaitu ekstern dan intern. Kritik ekstern adalah kritik yang pertama kali harus dilakukan oleh sejarawan saat dia menulis karyanya, terutama jika sumber sejarah tersebut berupa benda, yakni dengan melihat validisasi bentuk fisik karya tersebut, mulai dari bentuk, warna dan apa saja yang dapat dilihat secara fisik. Sedang kritik intern adalah kritik yang dilihat dari isi sumber tersebut, apakah dapat dipertanggungjawabkan atau tidak.
Historiografi
Historiografi adalah ilmu yang meneliti dan mengurai informasi sejarah berdasarkan sistem kepercayaan dan filsafat. Walau tentunya terdapat beberapa bias (pendapat subjektif) yang hakiki dalam semua penelitian yang bersifat historis (salah satu yang paling besar di antaranya adalah subjektivitas nasional), sejarah dapat dipelajari dari sudut pandang ideologis, misalnya: historiografi Marxisme.
Ada pula satu bentuk pengandaian sejarah (spekulasi mengenai sejarah) yang dikenal dengan sebutan "sejarah virtual" atau "sejarah kontra-faktual" (yaitu: cerita sejarah yang berlawanan -- atau kontra -- dengan fakta yang ada). Ada beberapa ahli sejarah yang menggunakan cara ini untuk mempelajari dan menjelajahi kemungkinan-kemungkinan yang ada apabila suatu kejadian tidak berlangsung atau malah sebaliknya berlangsung. Hal ini mirip dengan jenis cerita fiksi sejarah alternatif.
Metode kajian sejarah
Ahli-ahli sejarah terkemuka yang membantu mengembangkan metode kajian sejarah antara lain: Leopold von RankeLewis Bernstein NamierGeoffrey Rudolf EltonG. M. Trevelyan, dan A. J. P. Taylor. Pada tahun 1960an, para ahli sejarah mulai meninggalkan narasi sejarah yang bersifat epik nasionalistik, dan memilih menggunakan narasi kronologis yang lebih realistik. Ahli sejarah dari Perancis memperkenalkan metode sejarah kuantitatif. Metode ini menggunakan sejumlah besar data dan informasi untuk menelusuri kehidupan orang-orang dalam sejarah.
Ahli sejarah dari Amerika, terutama mereka yang terilhami zaman gerakan hak asasi dan sipil, berusaha untuk lebih mengikutsertakan kelompok-kelompok etnis, suku, ras, serta kelompok sosial dan ekonomi dalam kajian sejarahnya. Dalam beberapa tahun kebelakang ini, ilmuwan posmodernisme dengan keras mempertanyakan keabsahan dan perlu tidaknya dilakukan kajian sejarah. Menurut mereka, sejarah semata-mata hanyalah interpretasi pribadi dan subjektif atas sumber-sumber sejarah yang ada. Dalam bukunya yang berjudul In Defense of History (terj: Pembelaan akan Sejarah), Richard J. Evans, seorang profesor bidang sejarah modern dari Universitas Cambridge di Inggris, membela pentingnya pengkajian sejarah untuk masyarakat.

Pengertian Sejarah


Sejarahbabadhikayatriwayat, atau tambo dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau asal-usul (keturunan) silsilah, terutama bagi raja-raja yang memerintah.
Adapun ilmu sejarah adalah ilmu yang digunakan untuk mempelajari peristiwa penting masa lalu manusia.Pengetahuan sejarah meliputi pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir secara historis. Orang yang mengkhususkan diri mempelajari sejarah atau ahli sejarah disebut sejarawan.
Dahulu, pembelajaran mengenai sejarah dikategorikan sebagai bagian dari ilmu budaya (humaniora).Akan tetapi, kini sejarah lebih sering dikategorikan ke dalam ilmu sosial, terutama bila menyangkut perunutan sejarah secara kronologis.Ilmu sejarah mempelajari berbagai kejadian yang berhubungan dengan kemanusiaan pada masa lalu. Ilmu sejarah dapat dibagi menjadi kronologihistoriografigenealogi, paleografi, dan kliometrik.
Sejarah Secara Etimologi
Kata sejarah secara harfiah berasal dari kata Arab (شجرة: šajaratun) yang artinya pohon. Dalam bahasa Arab sendiri, sejarah disebut tarikh (تاريخ ). Adapun kata tarikh dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah waktu atau penanggalan. Kata Sejarah lebih dekat pada bahasa Yunani yaitu historia yang berarti ilmu atau orang pandai. Kemudian dalam bahasa Inggris menjadi history, yang berarti masa lalu manusia. Kata lain yang mendekati acuan tersebut adalah Geschichte yang berarti sudah terjadi.
Dalam istilah bahasa-bahasa Eropa, asal-muasal istilah sejarah yang dipakai dalam literatur bahasa Indonesia itu terdapat beberapa variasi, meskipun begitu, banyak yang mengakui bahwa istilah sejarah berasal-muasal,dalam bahasa Yunani historia. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan history, bahasa Prancis historie, bahasa Italia storia, bahasa Jerman geschichte, yang berarti yang terjadi, dan bahasa Belanda dikenal gescheiedenis.
Menilik pada makna secara kebahasaan dari berbagai bahasa di atas dapat ditegaskan bahwa pengertian sejarah menyangkut dengan waktu dan peristiwa. Oleh karena itu masalah waktu penting dalam memahami satu peristiwa, maka para sejarawan cenderung mengatasi masalah ini dengan membuat periodisasi.
Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli
§  Edward hallet carr
sejarah ialah suatu proses interaksi serba terus antara sejarawan dengan fakta-fakta yang ada padanya; suatu dialog tiada henti-hentinya antara masa sekarang dengan masa silam.
§  J.V. Bryce
Sejarah adalah catatan dari apa yang telah dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat oleh manusia.
§  James Bank
Semua peristiwa masa lampau adalah sejarah (sejarah sebagai kenyataan). Sejarah dapat membantu para siswa untuk mengetahui perilaku manusia pada masa yang lampau, masa sekarang dan akan datang.
§  W.H. Walsh
Sejarah itu menitikberatkan pada pencatatan yang berarti dan penting saja bagi manusia. Catatan itu meliputi tindakan-tindakan dan pengalaman-pengalaman manusia di masa lampau pada hal-hal yang penting sehingga merupakan cerita yang berarti.
§  Patrick Gardiner
Sejarah adalah ilmu yang mempelajari apa yang telah diperbuat oleh manusia.
§  Roeslan Abdulgani
Ilmu sejarah adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau beserta kejadian-kejadian dengan maksud untuk kemudian menilai secara kritis seluruh hasil penelitiannya tersebut, untuk selanjutnya dijadikan perbendaharaan pedoman bagi penilaian dan penentuan keadaan sekarang serta arah proses masa depan.
§  Moh. Yamin
Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan.
§  Ibnu Khaldun (1332-1406)
Sejarah didefinisikan sebagai catatan tentang masyarakat umum manusia atau peradaban manusia yang terjadi pada watak/sifat masyarakat itu.
§  Moh. Ali
Moh. Ali dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia, mempertegas pengertian sejarah sebagai berikut:
  1. Jumlah perubahan-perubahan, kejadian atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
  2. Cerita tentang perubahan-perubahan, kejadian, atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
  3. Ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan-perubahan, kejadian, dan atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
Dari beberapa uraian di atas dibuat kesimpulan sederhana bahwa sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari segala peristiwa atau kejadian yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan umat manusia. Dalam kehidupan manusia, peristiwa sejarah merupakan suatu peristiwa yang abadi, unik, dan penting.
  • Peristiwa yang abadi
Peristiwa sejarah tidak berubah-ubah dan tetap dikenang sepanjang masa.
  • Peristiwa yang unik
Peristiwa sejarah hanya terjadi satu kali dan tidak pernah terulang persis sama untuk kedua kalinya.
  • Peristiwa yang penting
Peristiwa sejarah mempunyai arti dalam menentukan kehidupan orang banyak.
Klasifikasi
Karena lingkup sejarah sangat besar, perlu klasifikasi yang baik untuk memudahkan penelitian. Bila beberapa penulis seperti H.G. WellsWill Durant, dan Ariel Durant menulis sejarah dalam lingkup umum, kebanyakan sejarawan memiliki keahlian dan spesialisasi masing-masing.
Ada banyak cara untuk memilah informasi dalam sejarah, antara lain:
  • Berdasarkan kurun waktu (kronologis).
  • Berdasarkan wilayah (geografis).
  • Berdasarkan negara (nasional).
  • Berdasarkan kelompok suku bangsa (etnis).
  • Berdasarkan topik atau pokok bahasan (topikal).
Dalam pemilahan tersebut, harus diperhatikan bagaimana cara penulisannya seperti melihat batasan-batasan temporal dan spasial tema itu sendiri. Jika hal tersebut tidak dijelaskan, maka sejarawan mungkin akan terjebak ke dalam falsafah ilmu lain, misalnya sosiologi. Inilah sebabnya Immanuel Kant yang disebut-sebut sebagai Bapak Sosiologi mengejek sejarah sebagai "penata batu-bata" dari fakta-fakta sosiologis.
Banyak orang yang mengkritik ilmu sejarah. Para pengkritik tersebut melihat sejarah sebagai sesuatu yang tidak ilmiah karena tidak memenuhi faktor-faktor keilmuan, terutama faktor "dapat dilihat atau dicoba kembali", artinya sejarah hanya dipandang sebagai pengetahuan belaka, bukan sebagai ilmu. Sebenarnya, pendapat ini kurang bisa diterima akal sehat karena sejarah mustahil dapat diulang walau bagaimana pun caranya karena sejarah hanya terjadi sekali untuk selama-lamanya. Walau mendapat tantangan sedemikian itu, ilmu sejarah terus berkembang dan menunjukkan keeksisannya dalam tataran ilmu.

18 Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa


1. Religius 
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2. Jujur 
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3. Toleransi 
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4. Disiplin 
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5. Kerja Keras 
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6. Kreatif 
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7. Mandiri 
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8. Demokratis 
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9. Rasa Ingin Tahu 
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10. Semangat Kebangsaan 
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11. Cinta Tanah Air 
Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12. Menghargai Prestasi 
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13. Bersahabat/Komunikatif
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14. Cinta Damai 
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
 15. Gemar Membaca 
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16. Peduli Lingkungan 
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17. Peduli Sosial 
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18. Tanggung-jawab 

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Sejarah Perkembangan IPS secara Umum


Sejarah perkembangan IPS secara umum memang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Social Studies yang berkembang di Amerika Serikat (USA), adanya Social Studies ini dilatarbelakangi oleh hancurnya tatanan sosial yang ada di masyarakat pada masa itu. Penyebab kehancuran tersebut yaitu terjadinya Perang Dunia ke-1 pada tahun 1914-1918 yang menimbulkan dampak yang besar, seperti kelaparan, rusaknya fasilitas-fasilitas umum, dan lain-lain yang tentu saja memengaruhi status dan peranan seseorang di masyarakat. Norma-norma yang berlaku di masyarakat pada masa itu cenderung di abaikan. Karena hal inilah para ahli ilmu pengetahuan yang dinaungi NCSS (National Council for The Social Studies) melakukan pertemuan untuk pertama kalinya pada tanggal 20-30 November 1935 untuk membicarakan pemikiran tentang Social Studies.
Pada tahun 1937, Edgar Bruce Wisley mengemukakan bahwa Social Studies adalah Ilmu-ilmu Sosial yang disederhanakan untuk tujuan pendidikan. Dari pengertian ini terkandung hal-hal sebagai berikut:
  1. Social Studies merupakan turunan dari Ilmu-Ilmu Sosial
  2. Dikembangkannya Social Studies ini bertujuan untuk memenuhi tujuan pendidikan/pembelajaran di tingkat sekolah maupun di tingkat Perguruan Tinggi 
  3. Aspek-aspek dari masing-masing disiplin Ilmu Sosial seperti contohnya aspek ilmu Sejarah perlu di seleksi dan disesuaikan dengan tujuan pendidikan/pembelajaran tersebut.
Antara tahun 1940-1950 NCSS mendapat serangan pertanyaan yaitu penting atau tidaknya Social Studies menanamkan nilai dan sikap demokratis kepada para pemuda. Hal ini terjadi karena adanya tuntutan untuk mengajarkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam masyarakat yang demokratis.
Pada tahun 1960-an, muncul suatu gerakan akademis yang secara khusus dapat dipandang sebagai suatu perubahan yang cukup mendasar di dalam Social Studies. Gerakan akademis tersebut dikenal sebagai gerakan The New Social Studies dan dipelopori oleh para sejarawan dan ahli-ahli Ilmu Sosial. Tahun 1940-1960 terjadi tarik menarik antara dua visi Social Studies, yaitu adanya gerakan yang menginginkan rumpun-rumpun sosial di integrasikan atau disatukan, di pihak ada pula yang menginginkan rumpun-rumpun sosial ini dipisahkan, namun hal ini cenderung akan memperlemah konsepsi pelajaran dalam Social Studies.
Tahun 1955 terjadi terobosan yang besar dari Maurice Hunt dan Lawrence Metcalf yang mencoba cara baru dalam menyatukan pengetahuan dan keterampilan Ilmu Sosial untuk tujuan Citizenship Education. Menurut mereka program Social Studies di sekolah seharusnya tidak di organisasikan menjadi rumpun-rumpun sosial secara terpisah, tetapi siswa diarahkan untuk melihat gejala-gejala sosial yang ada di masyarakat guna melatih para siswa untuk dapat mengambil keputusan mengenai masalah-masalah yang ada di masyarakat dan melatih keterampilan reflective thinking. Gerakan The New Social Studies menjadi pilar perkembangan Social Studies pada tahun 1960, titik tolaknya dari kesimpulan bahwa Social Studies sebelumnya dinilai sangat tidak efektif dalam mengajarkan substansi dan memengaruhi perubahan sikap siswa. Maka dari itu para ahli sosial dan sejarawan bersatu dan merumuskan Social Studies ke taraf "higher level of intellectual pursuit".
Pada akhir 1960-an tercatat adanya perubahan dari orientasi pada disiplin akademik yang terpisah-pisah ke satu upaya untuk mencari hubungan Interdisipliner. Tahun 1970 terjadi perkembangan Social Studies dalam perkembangan kurikulum persekolahan. Yaitu perkembangan dari dua gerakan (Social Studies dan Citizenship Education) yang bertolakbelakang dari Basic Human Activities.
Jika dilihat dari Visi Misi Social Studies menurut Barr (1977:48), Social Studies dikembangkan kedalam 3 tradisi, yaitu:
  1. Social Studies Taught as Citizenship Transmission. (Ilmu Sosial yang terintegrasi sebagai Ilmu Kewarganegaraan)
  2. Social Studies Taught as Social Science. (Ilmu Sosial sebagai disiplin ilmu yang terpisah)
  3. Social Studies Taught as Reflective Inquiry. (Ilmu Sosial sebagai ladang ilmu pengetahuan yang bersifat melatih kepekaan terhadap gejala sosial yang terjadi di sekitar.

1980 Perkembangan Social Studies ditandai oleh lahirnya dua pilar akademis: Social Studies Democratic beliefs and values dan Social Studies as Skill in The Social Studies Curriculum. Esensi dari Social Studies adalah pengembangan Ilmu Sosial bukan, bukan pada bidang lain. Pengembangan Social Studies dari mulai pendidikan dasar sampai tingkat menengah atas ditandai oleh keterpaduan pengetahuan, kemampuan siswa dan sikap sisa terhadap gejala sosial yang terjadi di sekitarnya. Hal ini memberikan dua arti, yaitu monodisipliner dan interdisipliner. Program Social Studies menitikberatkan pada upaya membantu sisa dalam construct a knowledge base and attitudes drawn from academic disciplines as specialized ways of viewing reality (Pembangunan pengetahuan dan sikap yang aktif melalui cara pandang secara akademik terhadap realita). Social Studies harus mencerminkan hakikat pengetahuan yang utuh secara terpadu menuntun perlibatan berbagai disiplin ilmu dalam Social Studies.

Sejarah Perkembangan IPS di Indonesia


Secara historis epistemologis sulit menelusuri perkembangan IPS di Indonesia karena ada dua alasan yaitu :
  1. Di Indonesia belum ada lembaga profesional bidang Pendidikan IPS (PIPS) seperti NCSS,  lembaga serupa yang dimiliki Indonesia yaitu HISPISI (Himpunan Serjana Pendidikan IPS Indonesia) yang usianya masih sangat muda dan produktivitas akademisnya masih sangat terbatas.
  2. Perkembangan kurikulum dan pembelajaran IPS sebagai ontologi ilmu pendidikan (disiplin) IPS sampai saat ini masih sangat bergantung pada pemikiran individual atau kelompok pakar yang ditugasi secara insidental untuk mengembangkan perangkat kurikulum IPS melalui Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarjana Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang Diknas) dan Pusat Kurikulum dan Buku (Puskurbuk Diknas).
Istilah IPS pertama kali muncul dalam Seminar Nasional tentang Civic Education tahun 1972 di Tawamangu, Solo. Ada 3 istlah yang muncul dari Seminar Nasional di Tawamangu dan digunakan secara bertukar, yaitu:
  1. Pengetahuan Sosial / Social Science
  2. Studi Sosial / Social Studies
  3. Ilmu Pengetahuan Sosial / Social Education
Konsep IPS pertama muncul dalam dunia persekolahan terjadi pada tahun 1973 dalam kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Bandung. Dalam kurikulum PPSP ini IPS menggunakan istilah:
  1. Studi Sosial
  2. Pendidikan Kewarganegaraan
  3. Civic dan Hukum
Menurut Barr pada tahap ini kurikulum PPSP mengenai Konsep Pendidikan IPS diwujudkan dalam 3 bentuk:
  1. PIPS terintegrasi dengan nama PKN / Studi Sosial
  2. PIPS terpisah, dimana istilah IPS hanya digunakan sebagai konsep payung untuk mata pelajaran Geografi, Sejarah dan Ekonomi
  3. PKN sebagai suatu bentuk PIPS khusus, yang dalam konsep Social Studies termasuk "Citizenship Transmission."
Dalam kurikulum 1975 PIPS menampilkan 4 profil, yaitu:
  1. PMP menggantikan PKN sebagai suatu bentuk PIPS khusus yang mewadahi Citizenship Transmission
  2. PIPS terpadu untuk SD
  3. PIPS terkonfederasi untuk menempatkan IPS sebagai konsep payung pelajaran Geografi, Sejarah dan Ekonomi Koperasi
  4. PIPS terpisah yang mencakup mata pelajaran Sejarah, Geografi, dan Ekonomi untuk SMA atau Sejarah dan Geografi untuk SPG.
Kurikulum PIPS 1984 masih sama dengan 1975, tetapi pada kurikulum 1984 terdapat penyempurnaan. Kurikulum 1994 mata pelajaran PPKn merupakan mata pelajaran sosial khusus yang wajib diikuti oleh semua siswa dalam setiap jenjang pendidikan (SD, SMP, SMA). Mata pelajaran IPS diwujudkan dalam:
  1. PIPS terpadu di SD kelas 3 sampai dengan kelas 6
  2. PIPS terkonfederasi di SLTP mencakup mata pelajaran Geografi, Sejarah dan Ekonomi Koperasi
  3. PIPS terpisah pada jenjang SMU, hampir mirip dengan "Social Studies" tetapi merupakan bagian Ilmu Pengetahuan Sosial
Kurikulum PIPS 2004, mata pelajaran IPS hampir sama dengan yang terdapat pada kurikulum 1994. Perbedaannya terletak pada jenjang SMA, mata pelajaran Sosiologi yang tadinya hanya diperoleh siswa kelas 3 saja sekarang sudah diberikan pada siswa kelas 2. Ada 2 versi mengenai PIPS, yaitu:
  1. Versi PIPS untuk pendidikan dasar dan menengah
  2. Versi PIPS untuk jurusan Pendidikan IPS di Perguruan Tinggi
Titik tolak pemikiran mengenai kedudukan konseptual PDIPS atau objek telaah dari sistem pengetahuan PDIPS tersebut, adalah:
  1. Karakteristik potensi perilaku belajar siswa SD, SLTP, dan SMA.
  2. Karakteristik potensi dan perilaku belajar mahasiswa FPIPS-IKIP atau JPIPS-STKIP
  3. Kurikulum dan bahan ajar IPS SD, SLTP dan SMA
  4. Disiplin ilmu-ilmu sosial, humaniora dan disiplin ilmu lain yang relevan
  5. Teori, prinsip, strategi, media dan evaluasi pembelajaran IPS
  6. Masalah-masalah sosial dan masalah ilmu dan teknologi yang berdampak sosial
  7. Norma Agama yang melandasi dan memperkuat profesionalisme
Perbedaan antara IPS sebagai bidang studi dengan IIS sebagai disiplin ilmu :

  1. Berbeda dengan IIS, IPS bukan sebagai disiplin ilmu seperti IIS, tetapi IPS lebih tepat sebagai suatu bidang kajian. 
  2. Pendekatan yang dilakukan IPS adalah melalui multidisipliner atau interdisipliner. Tidak seperti IIS yang menggunakan pendekatan disiplin ilmu atau monodisiplin.
  3. IPS senagaja dirancang untuk kepentingan pendidikan, oleh karena itu keberasaan IPS lebih memfokuskan pada dunia persekolahan. Sedangkan IIS keberadaannya bisa di dunia persekolahan, PT, atau bahkan dipelajari di masyarakat umum sekalipun.
  4. IPS disamping menggunakan IIS sebagai bahan pengembangan materi pembelajaran dilengkapi dengan mempertimbangkan aspek psikologis-pedagogis.

Hakikat dan Karakteristik Pendidikan IPS

  •  Hakikat Konsep Dasar IPS

Pada kenyataannya, perkembangan hidup seseorang mulai dari saat ia lahir sampai menjadi dewasa tidak dapat terlepas dari masyarakat. Kehidupan sosial manusia di masyarakat meliputi aspek-aspek hubungan sosial, ekonomi, psikologi, budaya, sejarah, geografi, dan politik. Karena setiap aspek kehidupan sosial itu mencakup lingkup yang luas, maka cara mempelajari dan mengkajinya harus menggunakan bidang-bidang ilmu yang khusus. Melalui ilmu-ilmu sosial itu pula dikembangkan bidang-bidang ilmu tertentu sesuai dengan aspek kehidupan sosial masing-masing.

Dalam bidang pengetahuan sosial ada 3 istilah yang sudah biasa kita dengar, yaitu:

  • Ilmu Sosial ( Social Science)
Pendekatan yang digunakan dalam Ilmu Sosial bersifat Interdisipliner yaitu hanya ditinjau dari satu rumpun pelajaran saja. Contohnya disiplin Ilmu Antropologi.

  • Studi Sosial (Social Studies) 
Studi sosial bukanlah suatu bidang keilmuan atau disiplin bidang akademis, tetapi merupakan suatu bidang yang mengkaji tentang gejala dan masalah sosial yang terjadi pada masyarakat. Karena bukan merupakan bidang keilmuan  kerangka kerja Studi Sosial ini tidak menekankan pada bidang teoritis, namun lebih kepada bidang-bidang praktis. Pendekatan yang digunakan dalam Studi Sosial bersifat Interdisipliner atau bersifat Multidispliner dengan menggunakan berbagai bidang keilmuan. Studi Sosial sifatnya lebih mendasar karena dapat disajikan kepada tingkat yang lebih rendah, mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

  • Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
IPS lebih menekankan kepada pendekatan Multidisipliner atau Interdisipliner dari bidang ilmunya masing-masing. Yaitu pendekatan yang komprehensif dari berbagai rumpun pelajaran. Seperti Ilmu Hukum, Ilmu Politik, Ilmu Ekonomi, Ilmu Sosial lain seperti Geografi, Sejarah, Antropologi, dan lainnya. Topik-topik dalam IPS dapat dimanipulasi menjadi suatu isu, pertanyaan atau permasalahan yang bersudut pandang Interdisiplin. Misalnya, didalam Geografi tentang pencemaran lingkungan, dampak dari pencemaran lingkungan ini dapat dikaji secara Ekonomi, Sosial Kemasyarakatan, Politik, Hukum, dan lainnya.

Dalam hal ini kita dapat melihat keseluruhan IPS sebagai sarana pendidikan yang memaparkan manusia didalam segi tiga waktu-ruang-hidup. Sebagaimana studi Sejarah yang membicarakan "Man in Time", Geografi membicarakan "Man in Space"dan gabungan dari Sosiologi, Antropologi, Ekonomi, dan Tata Negara yang membicarakan "Man in Life." Apabila digambarkan hubungan ketiganya adalah transmisi budaya, adaptasi ekologis, dan perjuangan hidup.

Selain ke-3 istilah diatas, ada istilah lain yang kadang-kadang digunakan dalam menyebut bidang studi IPS yaitu: Social Education dan Social Learning. Kedua istilah ini menurut Cheppy lebih menitikberatkan kepada berbagai pengalaman di sekolah yang dipandang dapat membantu anak didik mampu bersosialisasi di masyarakat.

Terdapat perbedaan antara Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebagai bidang studi dengan disiplin Ilmu-ilmu Sosial (Social Sciences), antara lain: 
  1. IPS bukan sebagai disiplin ilmu seperti Ilmu-ilmu Sosial (IIS), tetapi IPS lebih tepat sebagai suatu bidang kajian. Yaitu kajian tentang masalah-masalah kemasyarakatan.
  2. Pendekatan yang dilakukan IPS adalah pendekatan Multidisipliner atau Interdisipliner, sedangkan IIS menggunakan pendekatan disiplin ilmu atau Monodisiplin.
  3. IPS sengaja dirancang untuk kepentingan pendidikan, karena itu keberadaannya lebih memfokuskan pada dunia persekolahan. Sedangkan IIS keberadaannya bisa di dunia persekolahan, perguruan tinggi, bahkan juga dipelajari di masyarakat umum.
  4. IPS disamping menggunakan IIS sebagai bahan pengembangan materi pembelajaran, dilengkapi dengan mempertimbangkan aspek psikologis-pedagogis. Selain itu IPS juga sangat memperhatikan dan mempertimbangkan kemanfaatan, urutan, dan ruang lingkup bahan bagi setiap peserta didik dalam hidup dan untuk mempersiapkan kehidupannya kelak. Tidak seperti halnya IIS yang tidak mempermasalahkan pertimbangan-pertimbangan tersebut.
Pembelajaran IPS di sekolah bertujuan untuk mempersiapkan para peserta didik sebagai warga negara yang menguasai pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang dapat digunakan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah pribadi atau sosial serta mampu mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan sehingga ia sadar akan tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

  • Karakteristik Konsep Dasar IPS

Tujuan utama setiap pembelajaran Ilmu Sosial adalah membentuk warrga negara yang baik (Good Citizenship), demikian pula IPS memiliki tujuan yang sama, namun dalam proses penyajiannya IPS memiliki karakteristik tersendiri, dalam arti tidak sama dengan karakteristik Ilmu-ilmu Sosial. Walaupun demikian, keberadaan Ilmu-ilmu Sosial tidak dapat dipisahkan dari IPS karena konsep-konsep Ilmu Sosial merupakan sumber utama bagi pengembangan materi pembelajaran IPS.

Ruang lingkup IPS tidak lain adalah kehidupan sosial manusia di masyarakat. Masyarakat inilah yang menjadi sumber utama IPS. Aspek kehidupan sosial apapun yang kita pelajari, apakah itu hubungan sosial, Ekonomi, Budaya, Kejiwaan, Sejarah, Geografi, atau Politik bersumber dari masyarakat. Oleh karena itu, tugas seorang pembelajar adalah membelajarkan peserta didik dalam rangka meningkatkan kompetensi yang telah para peserta didik miliki. Hal ini mengandung arti bahwa peserta didik telah memiliki pengetahuan masing-masing sesuai dengan pengalaman dan penghayatannya selama mereka tinggal di masyarakat. Dalam upaya memanusiakan manusia (peserta didik) proses pembelajaran pendidikan IPS dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan sesuai dengan kebutuhan dan tingkat usia peserta didik masing-masing.

Ada 3 aspek yang dikaji dalam proses pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), yaitu:
  1. Memeberikan berbagai pengertian yang mendasar (Kognitif)
  2. Melatih berbagai keterampilan (Psikomotor)
  3. Mengembangkan sikap moral yang dibutuhkan (Apektif)
Karakteristik IPS diantaranya :

  1. Integrated (terpadu)
  2. Interdisipliner (dapat dikaji dari satu bidang ilmu pengetahuan)
  3. Multidisipliner (dapat dikaji dari berbagai bidang keilmuan/rumpun pelajaran)
  4. Psiko pedagogis (kajian IPS harus mempertimbangkan kemampuan berfikir siswa dengan memperhatikan Psikologi perkembangan mereka.
  5. Cross disipliner (menyilangkan satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain yang relevan)
  6. Social learning (dalam IPS harus ada aspek ilmu yang bisa dipelajari)
  7. Social education (dalam IPS harus ada ilmu yang bisa diambil)
  8. Synthetic discipline
  9. Scientific boundary line
  10. Kajian Sistematika

Pengertian Uniform Region, Nodal Region, Generic Region, dan Specific Region

Setiap tempat di permukaan bumi mempunyai ciri-ciri yang khusus dimana dapat dibedakan antara tempat yang satu dengan tempat yang lainnya. Oleh karena itu, maka konsep tempat dinamakan wilayah (region). Konsep tempat dalam pengertian wilayah dapat digunakan sebagai pendekatan geografi dan klasifikasinya adalah sebagai berikut :

  • Uniform Region (Wilayah Formal)
Uniform regional atau region statis adalah region yang dibentuk oleh adanya kesamaan kenampakan termasuk iklim, vegetasi, tanah, landform, pertanian atau penggunaan lahan. Uniform regional juga disebut dengan wilayah formal. Homogenitas dari wilayah formal dapat ditinjau berdasarkan kriteria fisik atau alam ataupun kriteria sosial budaya. Wilayah formal berdasarkan kriteria fisik didasarkan pada kesamaan topografi, jenis batuan, iklim dan vegetasi. Misalnya wilayah pengunungan kapur (karst), wilayah beriklim dingin, dan wilayah vegetasi mangrove. Adapun wilayah formal berdasarkan kriteria sosial budaya seperti wilayah suku Asmat, wilayah industri tekstil, wilayah Kesultanan Yogyakarta, dan wilayah pertanian sawah basah. Contohnya wilayah pertanian.

  • Nodal Region (Wilayah Fungsional)
Region nodal atau region dinamis ditandai oleh gerak dari dan ke pusat. Pusat ini disebut sebagai node. Region nodal dikatakan dinamis sebab didefinisikan sebagai gerakan bukan objek yang statis dan terdapat fungsi suatu tempat sebagai pusat sirkulasi.
Hubungan antarpusat kegiatan pada umumnya dicirikan dengan adanya arus transportasi dan komunikasi yang pada akhirnya menunjang pertumbuhan dan perkembangan dari setiap wilayah tersebut. Pada awal perkembangannya, Jakarta, Bogor, Depok,Tangerang, dan Bekasi merupakan kota-kota yang terpisah dan tidak saling memengaruhi. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan Kota Jakarta, kota di sekitarnya seperti Bekasi, Tangerang, Depok, dan Bogor menjadi wilayah penyangga bagi pertumbuhan dan perkembangan Kota Jakarta. Dalam pengertian lain Bekasi, Tangerang, Depok, dan Bogor merupakan suatu wilayah fungsional bagi pertumbuhan dan perkembangan Jakarta.
           Demikian pula dengan Jakarta merupakan wilayah fungsional bagi pertumbuhan dan perkembangan wilayah-wilayah di sekitarnya termasuk Bogor, Depok,Tangerang, dan Bekasi.
Secara umum kota merupakan wilayah fungsional yang berperan dalam memenuhi kebutuhan penduduk pedesaan di sekitarnya. Demikian pula desa merupakan wilayah fungsional yang berperan dalam menyokong pemenuhan kebutuhan hidup penduduk kota. Dengan demikian, antara kota dan desa walaupun secara fisik berbeda namun secara fungsional selalu saling berhubungan.
Terdapat 4 unsur yang esensial dalam struktur regional nodal, yaitu:
1. adanya arus barang, ide/gagasan dan manusia
2. adanya node/pusat yang menjadi pusat pertemuan arus tersebut secara terorganisir
3. adanya wilayah yang makin meluas
4. adanya jaring-jaring rute tempat tukar-menukar berlangsung

  • Generic Region
Generic region adalah klasifikasi wilayah yang terutama menekankan pada jenisnya, sedangkan region fungsinya diabaikan. penggolongan wilayah ini didasarkan pada kenampakan jenis tertentu. Misalnya di wilayah hutan hujan tripis (tropical rain forest), yang ditonjolkan hanyalah salah satu jenis flora tertentu di hutan tersebut seperti flora anggrek.
    
  • Specific Region

Specific region yaitu wilayah berdasarkan kekhususan sehingga merupakan daerah tunggal yang mempunyai ciri-ciri tersendiri.